Kamis, 13 Oktober 2011

fiksi tengah malam

mulai beberapa malam kemarin, aku berusaha membuat catatan di facebook ketika tengah malam. dan aku menamainya fiksi tengah malam. itu berupa curhatanku selama 1 malam penuh pada malam itu. malam yang penuh lelah. berikut diantaranya :


fiksi tengah malam
by Kabul Haifid on Monday, 10 October 2011 at 23:56

malam ini, 23:45.

perantau itu masih cekatan mengerjakan tugasnya. kamarnya berantakan seperti kapal pecah. baru 1 tugas yang selesai ia kerjakan. padahal, besok ribuan tugas menanti dia. matanya sudah berkunang-kunang. tempat itu menjadi sunyi, senyap.

dia terpaku dalam kesendirian. menulis kata demi kata yang seharusnya tidak ia tulis.

"ah, aku masih lebih beruntung.", gumamnya dalam hati.

entah apa yang dia rasakan, entah apa yang akan terjadi kemudian. ia tetap sendirian.
dan ia menikmati malam seiring dengan turunnya hujan.


fiksi tengah malam (2)
by Kabul Haifid on Tuesday, 11 October 2011 at 23:01

perantau itu tergeletak lemah tak berdaya. padahal masih banyak tugas yang belum ia selesaikan.
ia hanya berharap semoga tidak sakit. matanya berkunang, memutar, ke kiri dan ke kanan.

sesuatu tentang listrik memang menjadi momok baginya. maka ketika otak sudah berpikir keras dan tak kunjung menemukan jawabannya, ia pun menyerah dan putus asa.

alunan lagu indah LYLA - baik disini menemaninya malam ini. percaya bahwa kekuatan mimpi selalu ada. ini semua untuk masa depan, katanya.
masa depan yang seperti apa, entahlah.

meskipun malam ini tanpa hujan, ia tetap terlelap dengan semua kenangan.


fiksi tengah malam (3)
by Kabul Haifid on Wednesday, 12 October 2011 at 23:53

mata sebelah kirinya seperti dipukul orang. biru, layu.
sembab sudah. malam ini lebih baik karena ia sudah menyelesaikan 2 tugas sekaligus.

tak ada lagu yang diputar malam ini. tak ada lagi hujan yang turun malam ini.
sementara ia kian lemah. terlalu banyak keluh kesah. yang menghampiri bersama masalah yang tak terarah.

jumat ia akan kembali ke kampung halaman. pulihkan ingatan akan semua kenangan. dan (semoga) ia lebih semangat dalam menyongsong impian.




biasanya malam ini aku akan menulis fiksi tengah malam (4). dan tulisan itu dibuat sekitar jam 11 malam keatas. tapi sayangnya malam ini aku bebas dari tugas-tugas yang memaksaku untuk terus begadang setiap malam. jadi mungkin fiksi tengah malam (4) itu tak ada.

besok habis jumatan aku pulkam ke madura. ouch, kangen sekali rasanya. sejak masuk kuliah beberapa bulan yang lalu aku memang tak pernah pulang. bahkan teman-temanku tak percaya. karena mereka biasanya pulang setiap hari jumat tiba, dan kembali ke surabaya saat hari minggu. meskipun asal mereka lebih jauh dariku, tapi mereka tetap pulkam. hahahaha.

kalau aku lebih melihat sikon apakah pas atau tidak untuk pulkam. nah, karena sikon untuk minggu ini pas untuk pulkam. besok saya kembali ke madura !

Senin, 10 Oktober 2011

6 pertanyaan untuk kita renungkan

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. ..

Pertama…
“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini…???”
Murid-muridnya ada yang menjawab…. “orang tua”, “guru”, “teman”, dan “kerabatnya” ..
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar…
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”.. ..
Sebab kematian adalah PASTI adanya….Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua…
“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini…???”
Murid-muridnya ada yang menjawab… “negara Cina”, “bulan”, “matahari”, dan “bintang-bintang” …
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar…
Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”…
Siapa pun kita… bagaimana pun kita…dan betapa kayanya kita… tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu…
Sebab itu kita harus menjaga hari ini… dan hari-hari yang akan datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga…
“Apa yang paling besar di dunia ini…???”
Murid-muridnya ada yang menjawab “gunung”, “bumi”, dan “matahari”.. ..
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru …
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”…
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya…
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi …
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini… jangan sampai
nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)…

Pertanyaan keempat adalah…
“Apa yang paling berat di dunia ini…???”
Di antara muridnya ada yang menjawab… “baja”, “besi”, dan “gajah”…
“Semua jawaban hampir benar…”, kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”…

Pertanyaan yang kelima adalah… “Apa yang paling ringan di dunia ini…???”
Ada yang menjawab “kapas”, “angin”, “debu”, dan “daun-daunan” …
“Semua itu benar…”, kata Sang Guru…
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan ibadah”…

Lalu pertanyaan keenam adalah…
“Apakah yang paling tajam di dunia ini…???”
Murid-muridnya menjawab dengan serentak… “PEDANG…!! !”
“(hampir) Benar…”, kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”…
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati… dan
melukai perasaan saudaranya sendiri…

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN…
senantiasa belajar dari MASA LALU…
dan tidak memperturutkan NAFSU…???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun…
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH….
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita…???


Jumat, 30 September 2011

"SAYANGI MEREKA, MEREKA SAUDARA KITA"

Mereka jarang tersenyum bukan karena mereka enggan untuk tersenyum. Tapi hidup dan waktu seolah menuntut mereka untuk menghabiskan sebagian besar kehidupan untuk bekerja keras, sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada waktu untuk tersenyum. Seolah dunia begitu keras menuntut mereka hingga mereka lupa untuk tertawa.

Lihatlah teman.. Bahkan mereka tidak punya waktu untuk tersenyum. Apa mereka lupa cara tersenyum? Atau karena mereka tak pernah menerima senyuman, makanya mereka tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum?

Terkadang aku melihat dunia memang terlalu keras pada mereka. Bukan dunia sebagai objek, tapi dunia dengan manusianya. Bagaimana jika sesekali kita tidak menghabiskan waktu di tempat-tempat yang indah? Kenapa kita tak meluangkan waktu sejenak untuk memperhatikan mereka? Jika tak mau atau tak mampu membantu mereka dengan materi, tidak ada salahnya juga kita menghargai mereka dengan sebuah senyuman ikhlas dari wajah kita. Bukankah mereka juga saudara kita?

Teman, andai kita punya waktu untuk memperhatikan kehidupan mereka yang begitu sederhana. Maka kita akan menemukan kehidupan yang begitu indah. Di sana kita sadar betapa lebih beruntungnya kita.

Teman, tidak ada salahnya sesekali kita berjalan kaki sendirian di tengah keramaian sambil memperhatikan lingkungan kita. Cobalah luangkan waktu sedikit saja untuk itu. Sekali lagi, jika tak dapat memberi pada mereka paling tidak kita bisa sadar dan lebih memahami lagi hidup kita.

Aku bangga pada mereka. Mereka hebat. Dengan kehidupan yang begitu keras, mereka tetap bisa menjalaninya. Meski tak tahu dengan apa hidup ini akan dilanjutkan esok hari. Dan dengan apa perut mereka akan diisi, mereka tetap menanti datangnya mentari pagi. Mereka bilang kalau mereka percaya bahwa selama mereka masih hidup, maka rezeki dari Allah akan tetap ada untuk mereka. Rezeki akan tetap ada selama mereka masih percaya dan mau berusaha serta berdoa.

Mereka dengan kesederhanaannya selalu bahagia dan bersyukur ketika mendapatkan sejumlah uang. Jika orang kaya yang menerima uang sejumlah itu, mungkin mereka menganggap uang itu tak berarti apa-apa. Tapi mereka tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika mendapatkannya. Mengapa harus ada perbedaan seperti itu?

Jika si miskin datang ke rumah si kaya, sangat jarang atau bahkan tak akan ada sambutan hangat bagi mereka. Tapi ketika si kaya yang datang ke rumah si miskin, maka si miskin terlihat begitu menghargai. Seolah mereka didatangi oleh tamu agung di rumahnya. Sekali lagi, mengapa harus ada perbedaan seperti itu?

Jika suatu ketika si miskin dengan pakaiannya yang tampak lusuh dan kotor terjatuh, maka si kaya tak akan menghiraukan karena mungkin bagi mereka tidak akan menimbulkan manfaat apa-apa bagi dirinya. Yang ada paling hanya akan mengotori pakaiannya, mungkin itulah yang ada di fikirannya. Tapi, si miskin masih tetap berbeda dengan si kaya. Ketika keadaan berbalik, maka si miskin akan tetap membantu. Si miskin begitu pengiba. Hati mereka begitu lembut, sehingga tak mampu membiarkan orang lain dalam kesusahan karena mereka tahu bagaimana rasanya kesusahan itu.

Ya Rabb... Saudara-saudaraku itu mungkin di dunia tidak seberuntung yang lainnya. Mereka tidak dapat memiliki apa-apa yang mereka impikan. Tapi semoga mereka tetap bahagia dan penuh rasa syukur padaMu.
Ya Rabb... Sayangi saudara-saudaraku itu. Jangan biarkan mereka jauh dariMu. Ingatkan mereka selalu bahwa ada Engkau yang tetap menyayangi dan menjaga mereka. Dan berikanlah selalu semangat bagi mereka.
Ya Rabb... Berikan hati yang lembut pada mereka. Jangan biarkan kerasnya perlakuan yang mereka dapat menjadikan hati mereka ikut keras. Tapi jadikan kekerasan yang mereka terima itu sebagai bahan untuk lebih membuat hati mereka jernih melihat segala sesuatu.
Ya Rabb... Jangan biarkan rasa rendah diri melekat pada diri mereka akibat cemooh yang mereka terima. Tapi biarkan rasa rendah hati bersemayam pada diri mereka. Jagalah mereka agar tetap yakin akan kuasaMu dan agar mereka tetap beribadah kepadaMu sehingga mereka dapat bertemu dengan kebahagiaan yang hakiki bersamaMu.

Mungkin benar bahwa aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya seorang anak yang bahkan sampai saat ini masih bergantung pada orang tuaku. Lalu apa yang dapat aku lakukan?
Ya... Kalian boleh mengatakan bahwa aku tak bisa apa-apa.
Tapi mereka tetap saudaraku. Dan sekarang aku hanya bisa berdoa untuk mereka semua, di manapun mereka berada. Meski tak tahu apa-apa tentang mereka, yang jelas satu hal yang sangat aku tahu bahwa MEREKA ADALAH SAUDARAKU.

Maaf jika terlintas pemikiran bahwa tampaknya aku terlihat lebih berpihak pada si miskin. Tapi, jujur bagaimanapun juga aku memang lebih menyayangi si miskin. Namun, bukan berarti pula aku membenci si kaya karena aku tahu bahwa Allah tidak pernah membenci seseorang karena dia kaya atau miskin. Hanya saja, tulisan ini ku buat ketika aku melihat apa yang ku ceritakan saat ini. Dan bukan berarti hal ini harus terjadi selamanya.
Yang jelas aku sangat berharap, kaya atau miskin yang terpenting adalah bagaimana kita menghargai amanah yang diberikan kepada kita.

Maaf jika aku terlihat sok tahu. Bukan maksud menggurui karena aku sadar bahwa tak pantas diri ini menjadi seorang guru. Jika menemukan kebenaran, maka ambillah. Tuhan selalu menginginkan hamba Nya memperoleh kebenaran karena kebenaran itu niscaya hanya dariNya.
Tapi jika hanya ada kesalahan dan keburukan dari tiap untaian kata, mungkin itu karena si penulis ini yang tak mengerti apa-apa atau masih terlalu bodoh memaknai kehidupan.

Sabtu, 17 September 2011

(bukan) isak tangis

kamu datang dengan lelah
semua demi aku
kamu tebar canda tawa
tapi tidak dengan aku

kamu amati lingkunganku
penuh waspada akan aku
kamu tanya keadaanku
aku diam dan membisu

15 menit yang lalu
hanya secepat itu
padahal belum ku ungkapkan keluh kesahku
padahal belum ku tumpahkan isi hatiku

bening
hening
pening
kening

ini (bukan) isak tangis
nasibku tak terlalu miris
ini bukan inginku
takdir yang menuntunku

15 menit saja
kita berjumpa
aku rindu
aku rindu

mungkin bukan yang terbaik
tapi posisi selalu terbalik
ada kala kita suka
ada kala kita duka

aku iri dengan dia
bisa bersama dengan yang dicinta
aku benci dengan diriku
yang tak bisa memelukmu, ibu.


16 september 2011
22:25

surabaya

Sabtu, 03 September 2011

selamat hari raya Idul Fitri 1432 H

halo teman ! maaf ya udah lama ga buka ini blog... disini abonk hanya ingin mengucapkan :


selamat hari raya Idul Fitri 1432 H

minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.