Tampilkan postingan dengan label life motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life motivation. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

Alasan Kenapa Aku Tidak Pernah Mau Shalat!

Agama tidak hanya mengajarkan percaya pada tuhan saja. Di dalamnya ada tuntunan dan aturan-aturan yang harus dipatuhi. Ada kewajiban yang harus dijalankan, baik itu kewajiban kepada sesama manusia... maupun kewajiban kepada tuhan. Standart pribadiku kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama manusia bisa hanya sebatas tidak merugikan orang lain. Tidak mengganggu orang lain dan tidak mengambil alih hak-hak orang lain. Dan lagi kita bisa berimprovisasi sendiri meningkatkan nilai diri lewat membantu orang lain.

Shalat adalah salah satu ibadah yang paling diwajibkan oleh tuhan.

Waktu usiaku 7 tahun, aku merasa tidak berkewajiban untuk menunaikan ibadah shalat. Karena dulu, aku percaya kalau katanya dosa anak yang belum baligh (dewasa) itu ditanggung oleh orang tua. Pasalnya, orang tua lah yang berkewajiban mendidik anaknya. Ya, sesekali aku shalat karena cinta pada orang tua. Takut kalau mereka harus masuk neraka karena aku tidak shalat. Padahal hakikatnya kalimat “dosa ditanggung oleh orang tua” itu adalah agar anak jadi rajin beribadah, karena biasanya anak-anak akan mencintai orang tuanya dan tidak mau kalau orang tuanya masuk neraka.

Menginjak usia 13 tahun, aku juga belum shalat. Lah, kan aku belum baligh. Jadi belum menanggung dosa sendiri. Masih ada orang tua yang bisa dijadikan tameng dari dosa-dosa. Lagipula di usia itu adalah saat yang paling enak untuk bermain dengan teman sebaya. Bermain sepak bola, kejar-kejaran.

Di usia 17 tahun, aku tahu aku sudah menanggung dosa sendiri. Karena sudah baligh, sudah mimpi “naik ke bulan”. Sebuah istilah yang aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku baru “naik ke bulan” selama dua tahun. Jadi dosaku masih dua tahun, masih sedikit. Jadi, umur 20 tahun nanti lah aku akan mengganti shalat yang tertinggal itu.

Di usia 20 tahun, aku mulai mempertanyakan agamaku. Aku sudah masuk kuliah dan harus kritis. Jadi aku bertanya tentang tuhan, tentang kitab suci, tentang nabi dan tentang kebenaran dari semuanya. Aku tidak mungkin shalat dalam keadaan labil. Aku harus menemukan jati diriku.

Di usia 24 tahun, aku selesai kuliah. Agamaku telah mulai kuyakini. Tapi kini aku tengah sibuk mencari kerja. Jadi aku sibuk kesana kemari. Mencari lowongan, menyiapkan berkas lamaran. Dan itu melelahkan sekali. Aku tidak memiliki waktu untuk shalat. Shalat sih sebentar saja, tapi kadang terlalu sering menginterupsi.

Di usia 25 tahun. Aku belum mendapat kerja. Aku menggugat tuhan. Aku telah berusaha, tapi aku tidak mendapatkan. Aku jadi tidak mau shalat.

Di usia 27 tahun. Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama. Posisiku juga lumayan. Tapi, sibuknya bukan main. Sebentar-sebentar HP berdering. Lagi pula aku tengah pedekate dengan seorang gadis pujaan. Dengan seabrek kesibukan itu, mana sempat aku shalat.

Usiaku beranjak 30 ketika anak pertamaku lahir. Duh senangnya, karirku juga makin mapan. Namun, kesibukan makin merajai. Aku harus mengejar setiap kesempatan untuk masa depan keluargaku. Pertumbuhan anakku juga menyita perhatian yang besar, aku juga harus menyekolahkan anakku ke sekolah umum dan agama agar kelak ia berguna bagi bangsa dan agamanya.

Di usia 35, anak keduaku lahir. Dia wanita, cantik sekali. Bahkan sering aku memandikan dan menggantikan popoknya. Hidupku serasa lengkap sekali. Tapi, biaya hidup makin meningkat. Orang tuaku juga sudah mulai sakit-sakitan dan butuh biaya berobat. Aku harus makin rajin bekerja untuk menafkahi mereka. Sholat masih bisa kumulai di usia 40 nanti, pikirku.

Di usia 40, entah kenapa anakku tak seperti yang kuharapkan. Aku tak menyangka mereka bisa senakal itu. Bahkan anak pertamaku pernah tertangkap karena menghisap daun ganja. Daun surga katanya. Aku tak bisa konsentrasi untuk shalat. Ada saja yang membuat aku tak pernah melakukan ibadah utama itu.

45 tahun kujalani. Aku semakin lemah, tak sekuat dulu. Batuk sesekali mengeluarkan darah. Istriku mulai rajin berdandan, sayangnya dia berdandan saat keluar rumah saja. Di rumah, wajahnya tak pernah dipupur bedak sedikitpun. Aku merutuk, dosa apa yang telah aku lakukan hingga hidupku jadi begini?

Usiaku menginjak 55, aku berpikir kalau usia 60 nanti adalah waktu yang tepat untuk memulai shalat. Saat aku sudah pensiun dan aku akan tinggal di rumah saja. Saat itu adalah saat yang tepat sekali untuk menghabiskan hari tua dan beribadah sepenuhnya kepada tuhan.

Tapi aku sudah lupa bagaimana cara shalat. Aku lupa bacaannya. Aduh, aku harus mendatangkan seorang ustadz ke rumah seminggu 3 kali. Tapi aku tak kuat lagi untuk mengingat. Ingatanku tak setajam ketika dulu aku kerap juara lomba di kampus atau sekolah. Atau ketika manajer perusahaan salut pada tingkat kecerdasanku. Kali ini semua telah pudar. Jadi, apa yang diajarkan ustadz itu sering membal dari telingaku. Lagipula, badanku sudah tak begitu kuat untuk duduk lama-lama.

Kalau tidak salah, kali itu usiaku 59 tahun ketika istriku minta cerai. Alasannya tak lagi jelas kuingat, salah satunya katanya karena lututku tak kencang lagi bergoyang. Lucu ya? Entah kenapa juga dulu aku menikahinya, umurnya 20 tahun lebih muda dariku. Dia memang istri keduaku. Istri pertamaku dulu hilang, dibawa sahabatku.

Tak sampai usiaku 60, aku masih berusaha untuk shalat. Tapi serangan jantung membuat rumah mewahku ramai. Mereka terlihat menangis. Bahkan anak pertamaku yang membangkrutkan satu perusahaan keluargaku terlihat begitu tertekan. Ada kata yang sepertinya ingin dia ucap.

Terakhir aku akhirnya bisa shalat juga, sayangnya aku tidak shalat dengan gerakku sendiri. Aku hanya terbaring atau terbujur tepatnya. Dan orang-orang menyalatkanku.

Senin, 10 Oktober 2011

6 pertanyaan untuk kita renungkan

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. ..

Pertama…
“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini…???”
Murid-muridnya ada yang menjawab…. “orang tua”, “guru”, “teman”, dan “kerabatnya” ..
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar…
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”.. ..
Sebab kematian adalah PASTI adanya….Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua…
“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini…???”
Murid-muridnya ada yang menjawab… “negara Cina”, “bulan”, “matahari”, dan “bintang-bintang” …
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar…
Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”…
Siapa pun kita… bagaimana pun kita…dan betapa kayanya kita… tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu…
Sebab itu kita harus menjaga hari ini… dan hari-hari yang akan datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga…
“Apa yang paling besar di dunia ini…???”
Murid-muridnya ada yang menjawab “gunung”, “bumi”, dan “matahari”.. ..
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru …
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”…
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya…
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi …
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini… jangan sampai
nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)…

Pertanyaan keempat adalah…
“Apa yang paling berat di dunia ini…???”
Di antara muridnya ada yang menjawab… “baja”, “besi”, dan “gajah”…
“Semua jawaban hampir benar…”, kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”…

Pertanyaan yang kelima adalah… “Apa yang paling ringan di dunia ini…???”
Ada yang menjawab “kapas”, “angin”, “debu”, dan “daun-daunan” …
“Semua itu benar…”, kata Sang Guru…
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan ibadah”…

Lalu pertanyaan keenam adalah…
“Apakah yang paling tajam di dunia ini…???”
Murid-muridnya menjawab dengan serentak… “PEDANG…!! !”
“(hampir) Benar…”, kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”…
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati… dan
melukai perasaan saudaranya sendiri…

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN…
senantiasa belajar dari MASA LALU…
dan tidak memperturutkan NAFSU…???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun…
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH….
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita…???


Jumat, 30 September 2011

"SAYANGI MEREKA, MEREKA SAUDARA KITA"

Mereka jarang tersenyum bukan karena mereka enggan untuk tersenyum. Tapi hidup dan waktu seolah menuntut mereka untuk menghabiskan sebagian besar kehidupan untuk bekerja keras, sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada waktu untuk tersenyum. Seolah dunia begitu keras menuntut mereka hingga mereka lupa untuk tertawa.

Lihatlah teman.. Bahkan mereka tidak punya waktu untuk tersenyum. Apa mereka lupa cara tersenyum? Atau karena mereka tak pernah menerima senyuman, makanya mereka tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum?

Terkadang aku melihat dunia memang terlalu keras pada mereka. Bukan dunia sebagai objek, tapi dunia dengan manusianya. Bagaimana jika sesekali kita tidak menghabiskan waktu di tempat-tempat yang indah? Kenapa kita tak meluangkan waktu sejenak untuk memperhatikan mereka? Jika tak mau atau tak mampu membantu mereka dengan materi, tidak ada salahnya juga kita menghargai mereka dengan sebuah senyuman ikhlas dari wajah kita. Bukankah mereka juga saudara kita?

Teman, andai kita punya waktu untuk memperhatikan kehidupan mereka yang begitu sederhana. Maka kita akan menemukan kehidupan yang begitu indah. Di sana kita sadar betapa lebih beruntungnya kita.

Teman, tidak ada salahnya sesekali kita berjalan kaki sendirian di tengah keramaian sambil memperhatikan lingkungan kita. Cobalah luangkan waktu sedikit saja untuk itu. Sekali lagi, jika tak dapat memberi pada mereka paling tidak kita bisa sadar dan lebih memahami lagi hidup kita.

Aku bangga pada mereka. Mereka hebat. Dengan kehidupan yang begitu keras, mereka tetap bisa menjalaninya. Meski tak tahu dengan apa hidup ini akan dilanjutkan esok hari. Dan dengan apa perut mereka akan diisi, mereka tetap menanti datangnya mentari pagi. Mereka bilang kalau mereka percaya bahwa selama mereka masih hidup, maka rezeki dari Allah akan tetap ada untuk mereka. Rezeki akan tetap ada selama mereka masih percaya dan mau berusaha serta berdoa.

Mereka dengan kesederhanaannya selalu bahagia dan bersyukur ketika mendapatkan sejumlah uang. Jika orang kaya yang menerima uang sejumlah itu, mungkin mereka menganggap uang itu tak berarti apa-apa. Tapi mereka tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika mendapatkannya. Mengapa harus ada perbedaan seperti itu?

Jika si miskin datang ke rumah si kaya, sangat jarang atau bahkan tak akan ada sambutan hangat bagi mereka. Tapi ketika si kaya yang datang ke rumah si miskin, maka si miskin terlihat begitu menghargai. Seolah mereka didatangi oleh tamu agung di rumahnya. Sekali lagi, mengapa harus ada perbedaan seperti itu?

Jika suatu ketika si miskin dengan pakaiannya yang tampak lusuh dan kotor terjatuh, maka si kaya tak akan menghiraukan karena mungkin bagi mereka tidak akan menimbulkan manfaat apa-apa bagi dirinya. Yang ada paling hanya akan mengotori pakaiannya, mungkin itulah yang ada di fikirannya. Tapi, si miskin masih tetap berbeda dengan si kaya. Ketika keadaan berbalik, maka si miskin akan tetap membantu. Si miskin begitu pengiba. Hati mereka begitu lembut, sehingga tak mampu membiarkan orang lain dalam kesusahan karena mereka tahu bagaimana rasanya kesusahan itu.

Ya Rabb... Saudara-saudaraku itu mungkin di dunia tidak seberuntung yang lainnya. Mereka tidak dapat memiliki apa-apa yang mereka impikan. Tapi semoga mereka tetap bahagia dan penuh rasa syukur padaMu.
Ya Rabb... Sayangi saudara-saudaraku itu. Jangan biarkan mereka jauh dariMu. Ingatkan mereka selalu bahwa ada Engkau yang tetap menyayangi dan menjaga mereka. Dan berikanlah selalu semangat bagi mereka.
Ya Rabb... Berikan hati yang lembut pada mereka. Jangan biarkan kerasnya perlakuan yang mereka dapat menjadikan hati mereka ikut keras. Tapi jadikan kekerasan yang mereka terima itu sebagai bahan untuk lebih membuat hati mereka jernih melihat segala sesuatu.
Ya Rabb... Jangan biarkan rasa rendah diri melekat pada diri mereka akibat cemooh yang mereka terima. Tapi biarkan rasa rendah hati bersemayam pada diri mereka. Jagalah mereka agar tetap yakin akan kuasaMu dan agar mereka tetap beribadah kepadaMu sehingga mereka dapat bertemu dengan kebahagiaan yang hakiki bersamaMu.

Mungkin benar bahwa aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya seorang anak yang bahkan sampai saat ini masih bergantung pada orang tuaku. Lalu apa yang dapat aku lakukan?
Ya... Kalian boleh mengatakan bahwa aku tak bisa apa-apa.
Tapi mereka tetap saudaraku. Dan sekarang aku hanya bisa berdoa untuk mereka semua, di manapun mereka berada. Meski tak tahu apa-apa tentang mereka, yang jelas satu hal yang sangat aku tahu bahwa MEREKA ADALAH SAUDARAKU.

Maaf jika terlintas pemikiran bahwa tampaknya aku terlihat lebih berpihak pada si miskin. Tapi, jujur bagaimanapun juga aku memang lebih menyayangi si miskin. Namun, bukan berarti pula aku membenci si kaya karena aku tahu bahwa Allah tidak pernah membenci seseorang karena dia kaya atau miskin. Hanya saja, tulisan ini ku buat ketika aku melihat apa yang ku ceritakan saat ini. Dan bukan berarti hal ini harus terjadi selamanya.
Yang jelas aku sangat berharap, kaya atau miskin yang terpenting adalah bagaimana kita menghargai amanah yang diberikan kepada kita.

Maaf jika aku terlihat sok tahu. Bukan maksud menggurui karena aku sadar bahwa tak pantas diri ini menjadi seorang guru. Jika menemukan kebenaran, maka ambillah. Tuhan selalu menginginkan hamba Nya memperoleh kebenaran karena kebenaran itu niscaya hanya dariNya.
Tapi jika hanya ada kesalahan dan keburukan dari tiap untaian kata, mungkin itu karena si penulis ini yang tak mengerti apa-apa atau masih terlalu bodoh memaknai kehidupan.

Jumat, 24 Desember 2010

mari bersama kita renungkan..

malam pertama yang mengesankan

Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak
saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ....jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... ..
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi .....sudah pantaskah sikap kita selama
ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga

Baca jika anda ada waktu untuk ALLAH.
Bacalah hingga habis.
Saya hampir membuang email ini namun saya telah diberi
anugerah untuk membaca terus hingga ke akhir.

ALLAH, bila saya membaca tulisan ini, saya pikir saya
tidak ada waktu untuk ini....
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar
bahwa pemikiran semacam inilah yang ....
Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia
ini.

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari
Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit....
Dan sudah pasti waktu ada kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang
untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya
mengurus sendiri tanpa bergantung padaNYA.
Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana
ALLAH bukan lah yang paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang
telah DIA berikan kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita
sebelum kita meminta.

ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai
ceramah kita segar kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi kita
bangga mem "forward" kan email yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima.
Solat adalah yang terbaik.... Tidak perlu bayaran ,
tetapi ganjaran lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia
TIDAK Beriman PADA ALLAH
setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka
bagi mereka.

Tidakkah lucu bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA
ALLAH" TETAPI SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also
"believes" in ALLAH ).

Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan
email lawak yang akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali.,
tetapi bila anda mengirim email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10
kali untuk berkongsi?

Tidakkah mengherankan bagaimana bila anda mulai
mengirim pesan ini anda tidak akan mengirim kepada semua rekan anda
karena memikirkan apa tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti
apakah mereka suka atau tidak?.

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau
akan tanggapan orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap
anda.

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini
kepada semua rekan mereka di rahmati ALLAH.

Rabu, 01 Desember 2010

"SUARA UNTUK JIWA"

Duhai jiwa,

Aku dalam ketakukan. Setiap hari berpikir bagaimana kesudahanku. Pernakah kau merasakan keresahan ini? Ataukah kau tetap ingin bermain dengan mimpimu, dengan duniamu? Setiap detik mempermainkanku?

Duhai jiwa,

Aku lelah. Betapa aku ingin berhenti bermain bersamamu. Tapi aku tak berdaya. Engkaulah yang mengendalikanku. Membujuk akal untuk menyuruhku memenuhi keinginanmu. Aku tak kuasa atas diriku, tanpamu aku bukanlah apa-apa kecuali sekerat daging yang membusuk.

Duhai jiwa,

Aku ingin menjerit, meneriakkan segenap kekhawatiranku. Aku tak ingin menjadi kayu bakar neraka jahanam. Aku tak ingin menjadi daging membusuk yang dimakan ulat belatung. Aku tak ingin terkubur di kedalaman bumi yang gelap dan menyesakkan. Aku tak ingin remuk dihempas siksa kubur yang mencerai-beraikan setiap bagianku. Aku ngeri membayangkan semua itu.Tidakkah kau merasakan ketakutanku sedikit saja?

Duhai jiwa,

Aku mohon, kasihilah hamba sahayamu ini. Bukankah aku sangat setia padamu, tak pernah berseteru dengamu, selalu menuruti apapun yang kau inginkan. Takutlah pada Rabb yang menciptakanmu, dan menjadikan aku budakmu. Aku hidup karena kau, kebahagiaanku karena kau, penderitaanku karena kau.

Duhai jiwa,

Jangan letakkan dunia di relungmu. Biarkanlah ia hanya dalam genggamanku, yang dapat kuambil atau kuhempas setiap saat yang kau inginkan. Sungguh, aku akan menuruti segala keinginanmu.

Dan jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yng mengotorinya.
(QS As syams [92} : 7 – 10)

Duhai jiwa,

Aku hanyalah wadah untukmu. Dan kesudahanku ada ditanganmu. Pada dirimu ada kebaikan dan ada keburukan. Semua bergantung pada pilihanmu. Akankah kau bawa kita ke taman kebaikan tempat dimana kebahagiaan abadi bersemayam, ataukah kau ceburkan kedalam jurang kesengsaran abadi?
Sungguh aku takkan siap menjadi abu di neraka, yang selalu dikembalikan ke bentuk semula, dan segala siksa berulang lagi, dan lagi!

Duhai jiwa,

Kita tak tahu kapan giliran kita tiba. Betapa aku selalu menangis sedih ketika melakukan maksiat untukmu. Tidakkah kau dengar sedu sedanku?. Kau tidak hanya mencelakakan dirimu tapi juga menjerumuskanku. Ketika kau mengotori dirimu sekali, kau telah menyiapkan siksa berat yang tak terkira untukku.

Duhai jiwa,

Ajak langkahku untuk beribadah. Ajak kepalaku untuk sujud pada Rabbmu bersamamu. Ajak tanganku untuk bersedekah bagimu. Ajak lidahku hanya mengeluarkan yang baik darimu, memohonkan ampun bagimu, memohonkan kebaikan untukmu, memuji dan mengagungkan Rabbmu. Ajak telingaku hanya mendengar kebaikan untuk kesucianmu. Ajak mataku untuk meraup semua cahaya dari apa-apa yang dapat menambah kejernihanmu. Himbaulah akal untuk memerintahku hanya pada kebaikan yang datang darimu dan mengingkari keburukan yang berhembus darimu.

Duhai jiwa,

Sungguh. Bila kita berpisah nanti aku hanya ingin melepasmu dalam kebahagiaan. Melihat para malaikat tersenyum menyambutmu, membawamu kehadapan Rabbmu dan berseru:

Yaa ayyuhannafsul mutmainnah
Irji’ii ilaa Rabbiki radhiyatan mardiyyah
Fadkhuli fii ibaadii wadkhulii jannatii

Wahai Jiwa yang tenang
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai
Maka masuklah ke golongan hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam surgaKu
(QS Al Fajr [89] : 27 – 30).....


Semoga ALLAH senantiasa melimpahkan rahmat dan ridhoNYA , agar kita senantiasa dapat berjalan di relNYA dan menjadikan kita kekasihNYA. Walau tak sesempurna NABIYULLAH dan para AULIA.... Amien Yaa Robbal 'Alamin.....

Jumat, 19 November 2010

Sukses Itu Penting, Tetapi Makna Lebih Bermanfaat

Banyak orang saat ini beranggapan bahwa hidup harus sukses. Tanpa kesuksesan sepertinya tidak ada artinya hidup. Tanpa berpikir panjang lagi tentang arti kesuksesan, yang penting sukses. Saya harus SUKSES. Jadi hidup harus sukses. Sukses adalah segala-galanya titik. Sukses sukses sukses.


Kata sukses begitu sering kita dengar. Kata yang sepertinya sangat nikmat dan sayang jika tidak diucapkan. Saya sering melontarkan sebuah pertanyaan, ”apa yang menjadi cita-cita Anda?”. Jawabannya singkat dan cepat. Saya ingin jadi orang sukses. Ketika ditanya lebih lanjut tentang arti kesuksesan jawaban rata-rata yang keluar sifatnya lebih kepada materi. Ada juga jawaban seperti, membahagiakan orang tua, tapi lebih lanjut jika ditanya bagaimana caranya membahagiakan orang tua. Jawaban yang keluar kembali lebih kepada materi.


Gambaran sukses dalam benak banyak orang sering diartikan kaya. Kaya berarti ia memiliki kemampuan untuk mendapatkan fasilitas atau materi dengan lebih mudah dibandingkan kebanyakan orang pada umumnya. Contoh sederhana ukuran umum yang dipakai untuk mengatakan seseorang kaya; ia memiliki rumah pribadi 5, atau mempunyai mobil lebih dari 2 dan selalu berganti-ganti tiap tahun. Sementara untuk masyarakat umum untuk memiliki 1 rumah dan satu mobil saja sulit apalagi 5 dan berganti-ganti.
Sukses juga sering dikaitkan dengan menjadi terkenal atau karena seseorang memiliki jabatan tertentu yang mentereng (diingini banyak orang).


Tidak heran Kata sukses menjadi barang dagangan dan komoditas kata yang sangat menjual. Hal ini bisa dilihat dari fenomena banyak pelatihan dan seminar menggunakan kata sukses. Marilah kita berhenti sejenak merenungkan arti sebuah kesuksesan. Apakah ada orang yang disekitar anda yang sukses? Ukuran apa yang anda gunakan untuk mengatakan bahwa orang tersebut sukses? Apakah semua melulu diukur dengan materi?


Dalam kamus kata sukses (success= bahasa inggris) berarti keberhasilan atau hasil yang lebih baik. Ada benarnya bahwa sukses bila dikaitkan dengan materi berarti memiliki sesuatu yang lebih oke dari sebelumnya. Misalnya, dulu belum punya rumah sekarang punya rumah 5 buah dan besar-besar pula. Banyak orang yang mengenal dan melihat dari luar akan langsung berkata ”wah sekarang dia sudah sukses”.


Sukses dalam artian materi, memiliki lebih baik dari sebelumnya adalah tidak salah. Tapi sayangnya kecenderungan orang dalam melihat kesuksesan dalam artian materi sering menjebak. Mengapa demikian? Kecenderungan jika menggunakan ukuran materi sifatnya jangka pendek dan terkadang menghalalkan berbagai cara, serta menumpulkan kepekaan sosial. Padahal cara-cara jangka pendek dan instan tidak memiliki daya yang tahan lama. Sebentar saja karatan, keropos dan akhirnya menjadi bangkai. Sia-sia


Oleh karena itu penting sekali bagi seseorang untuk memikirkan ulang arti kesuksesan. Kesuksesan bukan sekedar mendapatkan materi yang lebih baik dari sebelumnya melainkan kesuksesan adalah buah dari pertumbuhan kualitas pribadi. Pertumbuhan kualitas pribadi yang semakin baik inilah yang akan menentukan kesuksesan seseorang dalam jangka panjang, berdaya tahan dan berdampak sosial yang positif. Satu hal yang penting bahwa pertumbuhan kualitas pribadi bersifat internal. Artinya sangat unik, sesuai dengan ciri khas masing-masing pribadi. Oleh karena itu arti sebuah kesuksesan adalah personal. Tidak umum. Sukses bagi seseorang belum tentu sukses bagi orang lain. Sebagai contoh, seorang merasa sukses jika mampu mendirikan perusahaan tapi bagi orang lainnya mungkin sukses itu cukup dengan menjadi seorang profesional yang terpercaya. Jadi sekali lagi sukses itu personal, kesuksesan saya berbeda dengan sukses anda.


Kita perlu mengevaluasi pertumbuhan kualitas pribadi kita. Pertumbuhan kualitas pribadi yang sehat inilah yang akan menuntun seseorang untuk mencipta makna (yang berarti/bermanfaat dalam hidup). Mari bertanya, kualitas pribadi apa yang sudah saya miliki? Dengan menjawab pertanyaan tersebut apakah anda merasa bermakna? Semakin anda memiliki jawaban beserta bukti-bukti refleksi dalam hidup anda maka anda akan semakin merasa bermakna tetapi sebaliknya jika semakin anda tidak mampu menjawabnya anda semakin merasa kurang bermakna atau tidak merasa apa-apa.


Banyak contoh kesuksesan yang bisa dipelajari. Warrrent Buffet dan Bill Gates saat ini menjadi orang terkaya di dunia. Tapi masing-masing memiliki kekhasan suksesnya. Warrent Buffet sukses karena kejeliannya dalam berinvestasi. Bill Gates sukses dalam keahliannya dalam bidang software komputer. Kita juga punya contoh kesuksesan yang tidak perlu kaya materi seperti mereka. Mahatma Gandhi, dia adalah orang yang sukses dengan berhasil membebaskan India dari penjajahan Inggris. Mother Theresa, seorang yang sangat terkenal. Ia sukses karena kepeduliannya kepada orang-orang miskin di Calcuta. Satu hal yang bisa dipelajari dari kesemua tokoh sukses di atas dengan meihat sejarah hidupnya, kesuksesan tidak datang mendadak. Tidak ada yang instan. Mereka Semua sadar betul bahwa kesuksesan mereka dibangun atas kualitas pribadi yang sehat dan merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang.


Pianis Hee Ah Lee, seorang yang cacat dari lahir hanya mempunyai 4 jari yang tidak sempurna dan kaki yang hanya sampai ke lutut , ternyata ia mampu membuat kesuksesan. Mengapa? Karena ia telah membangun terlebih dahulu kualitas pribadinya. Ia mandiri, mau belajar, tekun dan memiliki tujuan jelas yaitu memiliki keterampilan bermain piano. Ia sukses saat ini. Ia percaya diri, cukup materi dan terkenal. Tapi kesuksesannya tidak berhenti di situ. Ia dikatakan sukses karena berdampak sosial yang nyata bagi kehidupan orang lainnya. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang lain, terlebih bagi orang cacat lainnya. Ia telah memberi makna bagi kehidupan. Ukuran kesuksesan menjadi sederhana bukan? Kalau boleh saya simpulkan, kesuksesan adalah kemampuan kita memberi manfaat yang lebih baik bagi kehidupan orang lainnya? (jika anda setuju). Jika tidak bukanlah kesuksesan sesungguhnya.


Materi dan kehormatan akan datang dengan sendirinya. Materi dan kehormatan hanyalah sebuah hadiah tambahan yang diberikan Cuma-Cuma oleh hidup atas pertumbuhan kualitas pribadi kita masing-masing. Bahkan kita boleh membaginya. Bukan untuk dipegang sendiri.


Marilah kita mempertanyakan kembali arti kesuksesan, apakah sukses yang saya dan anda kejar adalah sukses yang sesungguhnya? Sukses yang memiliki manfaat bagi orang lain. Langkah sederhana untuk memperoleh sukses yang berdaya tahan dan jangka panjang dengan berjuang membangun pertumbuhan kualitas pribadi yang sehat dan produktif. Langkah berikutnya menyadari bahwa kesuksesan kita khas dan unik, berbeda dengan kesuksesan orang lain. Semoga kesuksesan itu membuat kita lebih menghargai diri dan dihargai oleh sekitar kita...